Waspada Saham Perusahaan “sakit”.

Hi e-readers, how are you?

Pada post kali ini gue akan share tentang perusahaan sakit yang tidak layak untuk dibeli sahamnya, terutama untuk value investor. Sebelum kita memutuskan untuk membeli dan berinvestasi saham pada suatu perusahaan, ada baiknya kita cek secara fundamental perusahaan tersebut memiliki prospek yang bagus atau sedang “sakit”. Check this out!

1. Pendapatan dan laba bersih menurun bahkan rugi

Penurunan pendapatan dan laba bersih tiap kuartal bahkan tiap tahun laporan selalu turun dan minus. Cashflow perusahaan bisa jadi tidak dapat menutup biaya produksi dari hasil penjualan.

2. Utang perusahaan tinggi

Perusahaan yang mempunyai utang tinggi menandakan bahwa pengelolaan keuangan yang kurang baik. Bisa jadi penurunan pendapatan namun biaya produksi meningkat sehingga cashflow perusahaan negatif. Perusahaan yang Debt to Equity Ratio lebih dari 100% biasanya dihindari oleh value investor. Namun ada juga investor yang berani berinvestasi pada perusahaan yang DER-nya diatas 100% dengan beberapa pertimbangan, contohnya kisah Lo Kheng Hong pada saham BUMI. 😄

3. Piutang yang besar

Perusahaan dengan piutang besar berarti setiap periode harus menyisihkan piutang tak tertagih dan ini menunjukkan bahwa pendapatan perusahaan cukup terganggu. Selain itu juga proyeksi laba tidak akan tercapai, apalagi memenangkan persaingan dengan kompetitor. Sebaiknya Perusahaan dengan piutang yang besar dihindari untuk value investing.

4. Restrukturisasi perusahaan besar-besaran

Biasanya dilakukan pada perusahaan yang sedang sekarat dan rugi yang berkelanjutan. Restrukturisasi bertujuan untuk memperbaiki secara menyelurug dan memaksimalkan kinerj perusahaan di masa mendatang. Contohnya restrukturisasi aset portofolio, menyusun ulang setiap aset, lini bisnis, unit usaha, dan anak perusahaan. Kemudian restrukturisasi keuangan, yaitu mengevaluasi kinerja keuangan dari laporan keuangan, yang terdiri dari balance sheet, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan ekuitas. Selamjutnya dapat diukur tingkat kesehatan perusahaan melalui rasio efisiensi, rasio efektivitas, rasio profitabilitas, tingkat likuiditas, tingkat perputaran aset, leverage ratio dan market ratio.

5. Core bisnis pindah haluan

Perusahaan yang berpindah core business-nya, misalnya dulu perusahaan fokus pada pertambangan batubara, semenjak harga batubara anjlok perusahaan pindah bisnisnya ke perhotelan dan properti.

6. Terjerat kasus hukum

Perusahaan yang terjerat kasus hukum umumnya akan dituntut atas sejumlah ganti rugi. Hal ini mengakibatkan kas perusahaan habis bahkan minus, bisa melakukan pinjaman atau bahkan menjual aset perusahaan. Selain brand image yang menjadi jelek, publik tentu menghindari untuk memiliki saham perusahaan yang terjerat kasus hukum. Oleh karena itu, value investor mesti hati-hati dalam menilai perusahaan yang terjerat kasus hukum sebelum berinvestasi.

Demikianlah beberapa pertimbangan dan analisa singkat sebelum membeli saham perusahaan. Semoga bermanfaat!

Adios! 😁🙏🏼

Check out my portfolio on Shutterstock! https://www.shutterstock.com/g/bangbingsar?rid=254629497&utm_medium=nativeapp&utm_source=ctrbreferral-link

You should become a Shutterstock Contributor—it’s a great way to get money, experience, and more work for your portfolio. Sign up using my link! https://submit.shutterstock.com/?rid=254629497&utm_medium=nativeapp&utm_source=ctrbreferral-link

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: